Selasa, 17 November 2009

ISLAM KAFFAH

Seorang wanita berkerudung bergegas mendekati angkot yang sedang ngetem. Ketika naik dia mendahulukan kaki kanan seraya mengucapkan Bismillahir rahmanir rahim. Kemudian angkot pun berangkat. Setengah jam kemudian, wanita itu turun dengan menyerahkan uang Rp.300,00 kepada kenek dan bergegas pergi. Sang kenek berteriak meminta tambahan ongkos, tetapi wanita itu semakin mempercepat jalannya. Dengan kesal sang kenek mengumpat, “Naik angkot pakai kerudung dan membaca bismillah, tetapi mbayar hanya tiga ratus, mending tidak pakai kerudung dan tidak pakai bismillah, tetapi mbayar lima ratus!”

Karena itu, pengakuan keislaman seseorang tidak cukup hanya dalam bentuk syahadat lisan atau keyakinan dalam hati. Ia harus termanifestasikan pula dalam bentuk amal perbuatan sehari-hari dan dari waktu ke waktu. Setiap unit perbuatan yang dilakukan oleh seorang Muslim, hendaknya menampakkan identitas keislaman yang total dan integral seperti itu.

Karena itu, Islam mengajarkan tata cara bertindak dalam setiap unit perbuatan, dari masuk ke kamar kecil hingga bergaul dengan orang lain. Begitu seseorang hendak makan, maka dia diperintahkan untuk membaca basmalah dan berdo’a, lalu menggunakan tangan kanannya. Yang pertama menunjukkan unsure keimanan, sedangkan yang kedua merupakan unsure akhlak. Dengan begitu, terdapat keseimbangan antara hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama manusia. Di situ tidak ada skala prioritas, dalam arti mana yang harus didahulukan: hubungan dengan Allah atau hubungan dengan manusia.

Namun di masyarakat kita kadang-kadang masih terdapat kesan bahwa hubungan dengan Tuhan jauh lebih penting ketimbang hubungan dengan manusia, dosa kepada Tuhan lebih besar hukumannya ketimbang dosa kepada manusia. Akibatnya orang sering memberi tekanan sangat tinggi terhadap kewajiban shalat tetapi mengabaikan kejujuran, menganggap dosa meninggalkan puasa Ramadhan lebih besar ketimbang korupsi. Kita pun masih sering mendengar bahwa kuliah atau rapat harus dihentikan ketika shalat Dhuhur tiba, tetapi begitu ujian tiba, banyak siswa maupun mahasiswa nyontek di sana-sini.

Manusia adalah makhluk yang mempunyai fungsi ganda. Dalam hubungannya dengan Allah dia adalah ‘abid, yakni hamba yang harus tunduk dan patuh kepada Tuhan, dan dalam hubungannya dengan sesama makhluknya dia adalah Khalifah Allah. Fungsi ‘abid harus dilaksanakan serentak dengan fungsi kekhalifahan, tanpa boleh ada yang harus didahulukan dan dibelakangkan.

»»  Baca Selengkapnya...

Jumat, 13 November 2009

Memaknai Syukur

Setiap kita memperoleh nikmat dari Allah SWT. Kita diwajibkan bersyukur kepada-Nya. Secara tepat syukur didefinisikan sebagai mempergunakan nikmat Allah di jalan yang dikehendaki-Nya.

Akan tetapi, manifestasi bersyukur dalam bentuk di atas sering kali bergeser menjadi bentuk lain, ketika nikmat dihubungkan dengan satu ayat dalam Surah Adh-Dhuha. Ayat tersebut berbunyi, Wa amma bi ni’mati Rabbika fahaddits yang berarti, “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaknya engkau menyebut-nyebutnya”.

Dengan pemberian arti seperti itu, ayat ini sering kali dipahami sebagai perintah untuk menyebut-nyebut dan membicarakan nikmat yang kita terima dari Allah kepada orang lain. Akibatnya, ketika seseorang meraih keuntungan dalam bisnis, memperoleh kenaikan pangkat, anaknya jadi insinyur, dan sejenisnya, dia lalu mengundang tetangga, kawan dan teman sejawat untuk “bersyukur” dengan acara makan-makan.

Padahal fahaddits (dengan dua dal pada ayat di atas) memiliki makna yang lebih mendalam dari sekadar “membicarakan”. Ia lebih tepat jika diartikan “membuat(-nya) berbicara”. Artinya, ketika seseorang menerima nikmat dari Allah, dia harus menjadikan nikmat tersebut berbicara.

Nikmat dan anugerah Allah kepada manusia, sungguh tak terbilang banyaknya. Seluruh anggota tubuh kita, dari ujung rambut hingga ujung jari kaki, sejak otak hingga hati, adalah nikmat Allah yang tak terhingga nilainya. Akan tetapi karena sejak lahir semuanya itu sudah kita “miliki”, maka kita cenderung untuk tidak menyebutnya sebagai nikmat dan anugerah. Yang kita sebut sebagai nikmat, biasanya, adalah pemberian-pemberian Allah yang incidental tadi: naik pangkat, dapat keuntungan dalam bisnis, lulus perguruan tinggi.

Terlepas dari itu semua, yang jelas seluruh nikmat tersebut harus kita buat “berbicara” kepada sesama manusia. Makanya nikmat tersebut harus betul-betul membawa manfaat bagi sesama, dan tidak sekadar bagi diri kita sendiri. Jika hari ini kita memiliki tangan, maka tangan kita mesti bermanfaat bagi umat manusia. Jika kita merasa bahwa Tuhan telah memberi anugerah otak kepada kita, maka otak kita harus memberi manfaat dan berbicara apa yang dikerjakannya bagi orang lain. Dan jika saat ini kita memperoleh rezeki cukup banyak dari Allah, maka rezeki itu pun harus dapat berbicara dalam bentuk amal-amal bagi kepentingan diri dan kepentingan sesame.

Sesudah itu, seluruh nikmat tersebut hendaknya dapat pula berbicara di hadapan Tuhan di akhirat kelak, dalam bentuk laporan yang padat dengan amal. Dengan begitu, maka bersyukur atas nikmat Allah berarti kehadiran. Yakni, kehadiran nikmat yang kita peroleh, baik di hadapan manusia maupun di hadapan Tuhan. Karenanya, jika usia kita merupakan anugerah dan nikmat Allah, maka usia itu pun mesti hadir di hadapan manusia dan di hadapan Allah dengan amal-amalannya.

Maka dari itu agar nikmat tersebut tidak mejadi sia-sia. Hendaknya tidak ada di antara kita yang hidup selama 50 tahun di dunia ini, tanpa ada satu pun dari waktu kita yang tidak berbicara kepada umat manusia dalam bentuk kebaikan-kebaikan. Dengan begitu, bersyukur juga punya dimensi kesejarahan dalam bentuk kehadiran kita di dunia ini.

»»  Baca Selengkapnya...
Related Posts with Thumbnails
 

© Free blogger template 3 columns